Sabtu, 08 Desember 2012

TERJEMAHAN VERBOND 10 JANUARI 1679

Perjanjian dan ikatan yang diadakan oleh Gubernur Maluku, Robertus Padtbrugge atas nama Yang Mulia Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens dan Dewan Hindia yang mewakili de Nederlandsche g’octroyeerde Oost Indische Compagnie (Kompeni Hindia Timur Belanda pemegang hak monopoli) dan Negara Belanda Serikat di satu pihak, dan para ukung serta seluruh masyarakat dari daerah Manado atau ujung paling utara dari Selebes di pihak lain.
Semua ukung dari Aris, Clabat, Bantik, Klabat-Atas (=Maumbi), Kakaskasen, Tomohon, Tombariri, Sarongsong, Tounkimbut-Bawah (=Sonder), Tounkimbut-Atas (=Kawangkoan), Rumoong, Tombasian, Langoan, Kakas, Remboken, Tompasso, Tondano, Tonsea, Manado, Tonsawang dan Pasan yang mewakili Ratahan dan Ponosakan, telah menyatakan bahwa mereka telah turun ke Manado atas panggilan untuk mengadakan rapat, dan atas permintaan mereka bersama, dan dengan syarat bahwa ukung sampai akhir hayat mereka akan tetap cinta dan setia pada Kompeni, yang telah berjanji, bahwa kami tidak akan meninggalkan para ukung, atau memberi kesempatan Raja Bolaang berkuasa kembali, baik atas daerah ini maupun atas orang-orangnya, oleh karena bukan mereka yang meninggalkan raja, tetapi rajalah yang meinggalkan mereka dan telah berusaha dengan segala cara untuk menyulitkan dan merugikan mereka, hal mana di samping yang lain-lain, telah mendorong mereka untuk mencetuskan permintaan ini.
Selanjutnya, bahwa dalam rapat hal-hal di bawah ini telah dibahas, diperbincangkan, dan sesudah dipikirkan masak-masak, telah disepakati untuk mencatatnya dalam bahasa Belanda kita sesuai permintaan mereka yang pantas serta kehendak mereka yang sangat besar, agar senantiasa dapat diketahui oleh para gubernur dan para kepala pemerintahan Maluku, apa yang mereka telah janjikan dan luaskan, begitu pula apa yang telah dijanjikan dan diluaskan pada mereka, yaitu:
 
(1)
Bahwa hanya Kompeni yang mereka anggap dan akui sebagai satu-satunya yang dipertuan yang sah untuk selama-lamanya (?), dan di samping Tuhan Allah, kini dan selanjutnya, tidak ada orang lain yang diakui dan akan diakui, dan bahwa semua ini telah dilakukan atas kehendak sendiri tanpa paksaan.
 
(2)
Berjanji bersatu-padu dengan setia, mendampingi dan membantu Kompeni menghadapi segala kemungkinan dengan harta kekayaan, daerah dan segala kesanggupan.
 
(3)
Untuk itu menyanggupi, akan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemeliharaan perbentengan, seperti pagar tembok, perbaikan, pembaruan dan penambahan bahan bangunan yang dirasa perlu seperti kapur, batu, pasir, tiang-tiang kayu untuk laras dan roda, balak, bambu, atap, kaso dan apa saja yang diperlukan dan selanjutnya apa yang diperlukan dalam suatu pertahanan perang atau penyerangan, tanpa bayaran.
 
(4)
Termasuk tugas dalam benteng adalah, membuat dan memelihara dermaga menuju pantai dan membangun serta memelihara tanggul dan selanjutnya segala sesuatu yang diperlukan untuk kepentingan tanah air.

(5)
Kelima, mereka berjanji untuk mengusahakan bahwa senantiasa akan tersedia satu rumah Kompeni yang baik, pantas dan besar di samping satu gudang yang baik agar supaya segala sesuatunya akan aman, untuk kain-kain yang akan ditumpuk di sini untuk keperluan perdagangan padi, dan padi hasil tukaran yang pula akan disimpan di dalamnya. Mereka pun berjanji pada Kompeni, akan memasukkan padi yang baru, bersihdan ditapis dengan baik, sehingga dari dua bagian padi dapat diperoleh satu bagian beras, untuk mana Kompeni akan mendatangkan satu mesin menyaring dan memerintahkan para pegawai untuk mengawasinya, karena katanya mereka tidak dapat bertanggung jawab atas adanya dedak yang secara tidak jujur dapat dimasukkan oleh para petugas Kompeni; tetapi mengenai beras, dinyatakan dengan berbagai alasan, bahwa mereka hanya dapat memasukkannya untuk keperluan kapal-kapal berdasarkan pembicaraan terdahulu.

Setelah semuanya setujui, maka kepada mereka diberikan pula bersama ini, atas nama Kompeni, dijanjikan sebagai berikut:
 
(1)
Bahwa semua ukung, daerah serta orang-orangnya baik yang hadir maupun yang tidak hadir, akan dianggap dan diterima sebagai bawahan Kompeni yang jujur dan setia, yang harus dijaga, dilindungi, dijamin keamanan dan dibantu mengahadapi siapa pun yang akan mengganggu, merusak, menghina, hal mana berlaku pula atas kebun, kampung, tanaman, ternak, hak milik, orang-orang, perempuan, anak-anak, budak-budak atau apa saja yang ada hubungan dengan itu.
 
(2)
Dalam perjanjian ini dapat pula diturutsertakan orang-orang Tonsawang, Ratahan, Ponosakan dan juga bahagian tertentu dari Bantik (=Bantik Alifuru), bila mereka mengakhiri segala pengabdian kepada Raja Bolaang, yang kini masih terlihat, di luar mana hal ini tidak berlaku bagi mereka.
 
(3)
Bahwa semua mereka yang telah dinyatakan berada di bawah naungan Kompeni, dibebaskan sama sekali dari segala sesuatu, sama sekali tidak membayar sesuatu imbalan, balas budi atau utang, kecuali apa yang disepakati bersama dalam keadaan darurat atau menghadapi musuh, dalam hal mana Kompeni tidak menginginkan yang lain, selain pernyataan kejujuran yang langgeng dan simpati.
 
(4)
Untuk membuktikan maksud baiknya, maka sejak sekarang mereka tidak akan mengeluarkan lagi, baik dari darat maupun dari luar (=pulau-pulau sekitar), kayu hitam, dengan segala alasan apa pun, biarpun atas nama gubernur; dalam hal kapal-kapal dan tongkang-tongkang maka berdasarkan persetujuan terdahulu, harus disediakan keperluan untuk kegunaanpelayaran, seperti balok dan semacamnya, dan tanpa barang-barang tersebut kapal-kapal tidak akan dapat berlayar.

Segala persetujuan yang diadakan oleh seluruh ukung dan masyarakat dengan Kompeni dan janji yang diberikan oleh Gubernur Robertus Padtbrugge kepada semuanya, atas nama Kompeni, berdasarkan janji dari kedua belah pihak, akan dipelihara dengan tulus ikhlas, tanpa cidera, tanpa dikurangi dans ecara jujur, tetapi karena orang-orang ini tidak mempunyai pengetahuan dan pengertian mengenai tulis-menulis, untuk soal ini mereka meminta sebagai saksi, juru bahasa Bastiaan Saway, ukung Mandij, Kapten Pacat Soepit (=Ukung Pacat Soepit) dan Pedro Ranty, yang mengerti betul terjemahan dan apa yang telah diterjemahkan dalam bahasa Melayu; dan agar segala sesuatu itu dapat memperoleh kekuatan yang lebih besar, segala sesuatu yang tertulis itu diserahkan pada mereka setelah diresmikan dan dicap, yang pada waktunya akan disalin ke dalam bahasa mereka dengan huruf kita (=Latin), untuk dapat dibacakan sewaktu-waktu kepada rakyat, dan agar supaya isinya dapat pula diketahui oleh anak keturunan mereka.

Sekianlah yang dibuat dan diputuskan di Manado dalam Benteng Amsterdam pada tanggal 10 Januari 1679.

(tertanda)
Robertus Padtbrugge,
dan atas nama daerah (=Daerah Manado)
tercantum tanda-tanda dari
juru bahasa Bastiaan Saway,
Ukung Mandij,
para Kapten Pacat Soepit dan Pedro Ranty,
(dengan cap Kompeni dalam lak merah)
atas perintah dari Gubernur Robertus Padtbrugge,
tanggal dan tahun tersebut di atas dan
tertanda
Christiaan Hasselberg

Beberapa Upacara Adat Suku Minahasa

Pulau Sulawesi atau yang pada zaman dahulu terkenal juga dengan sebutan Celebes ini, selain memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah baik berupa panorama yang menyejukkan pandangan, aneka marga satwa yang lengkap, bahkan beberapa diantaranya merupakan binatang langka dan endemic yang hanya hidup di Pulau ini seperti burung Maleo, Cuscus, Babirusa, Anoa dan Tangkasii (Tarsius Spectrum), dan aneka fauna yang demikian lengkap baik itu aneka bunga, sayur mayur dan juga berbagai variasi buah-buahan.
Tanah yang subur nan eksotis ini saja sudah cukup membuat kagum setiap siapa pun yang berkunjung ke tempat ini, terlebih lagi budaya dan kearifan lokal warisan nenek moyang penduduk setempat masih senantiasa lestari hingga detik ini dengan berbagai ritual upacara yang senantiasa mereka pegang dan jalankan mengiringi siklus hidup dan babak-babak terpenting dari keseharian mereka. Maka dari itu, sudah tak disangsikan lagi dengan kombinasi variasi yang luar biasa dalam bidang panorama dan cara kehidupan orang tertempat yang memiliki tradisi yang unik akan memikat pengunjung dari luar.
Nah, pada kesempatan kali ini, Budaya Nusantara akan mengulas secara singkat apa-apa saja budaya dan kearifan lokal masyarakat Minahasa yang sampai saat ini masih tetap lestari di tengah-tengah kehidupan mereka, terutama pada dan untuk upacara-upacara adatnya.

1. Monondeaga
Upacara adat ini merupakan sebuah upacara adat yang biasa dilakukan oleh suku Minahasa terutama yang berdiam di daerah Bolaang Mongondow. Pelaksanaan upacara adat ini sendiri adalah untuk memperingati atau mengukuhkan seorang anak perempuan ketika memasuki masa pubertas yang ditandai dengan datangnya haid pertama. Secara garis besar, upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan sekaligus semacam uwar-uwar bahwa anak gadis dari orang yang melaksanakan upacara adat ini telah menginjak masa pubertas. Untuk itu, agar kecantikan dan kedewasaan sang anak gadis lebih mencorong, maka dalam upacara adat ini sang gadis kecil pun daun telinganya ditindik dan dipasangi anting-anting layaknya gadis yang mulai bersolek, kemudian gigi diratakan (dikedawung) sebagai pelengkap kecantikan dan tanda bahwa yang bersangkutan sudah dewasa.

2. Mupuk Im Bene
Sebenarnya upacara Mupuk Im Bene itu hakikatnya mirip dengan upacara syukuran selepas melaksanakan panen raya, seperti halnya yang lazim kita saksikan di pulau Jawa ketika menggelar acara mapag sri dan atau munjungan. Dan memang, esensi dari ritual ini sendiri adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala rizki yang mereka dapat, atau yang dalam bahasa setempat disebut dengan Pallen Pactio. Prosesi dari upacara adat ini adalah secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut: Masyarakat yang hendak melaksanakan upacara Mupuk Im Bene ini membawa sekarung padi bersama beberapa hasil bumi lainnya ke suatu tempat dimana upacara ini akan dilakanakan (biasanya di lapangan atau gereja) untuk didoakan. Kemudian selepas acara mendoakan hasil bumi ini selesai maka dilanjutkan dengan makan-makan bersama aneka jenis makanan yang sebelumnya telah disiapkan oleh ibu-ibu tiap rumah.

3. Metipu
Metipu merupakan sebuah upacara adat dari daerah Sangihe Talaud berupa penyembahan kepada Sang Pencipta alam semesta yang disebut Benggona Langi Duatan Saluran. Prosesi dari upacara adat ini adalah dengan membakar daun-daun dan akar-akar yang mewangi dan menimbulkan asap membumbung ke hadirat-Nya, sebagai bentuk permuliaan penduduk setempat terhadap pencipta-Nya.

4. Watu Pinawetengan
Kalimat atau istilah Musyawarah untuk mencapai kata mufakat dan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh ternyata bukan hanya monopoli beberapa kaum saja, dan tentu saja itu bukanlah isapan jempol yang tanpa makna. Suku minahasa pun memiliki satu upacara adat yang memang dilaksanakan untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan anatar penduduknya. Upacara adat itu dalam suku Minahasa disebut dengan upacara Watu Pinawetengan. Konon berdasarkan cerita rakyat yang dipegang secara turun temurun, pada zaman dahulu terdapatlah sebuah batu besar yang disebut tumotowa yakni batu yang menjadi altar ritual sekaligus menandai berdirinya permukiman suatu komunitas. Dan konon lagi kegunaan dari batu tersebut merupakan batu tempat duduk para leluhur melakukan perundingan atau orang setempat menyebutnya Watu Rerumeran ne Empung. Dan memang, ketika Johann Gerard Friederich Riedel pada tahun 1888 melakukan penggalian di bukit Tonderukan, ternyata penggalian berhasil menemukan batu besar yang membujur dari timur ke barat. Batu tersebut merupakan tempat bagi para pemimpin upacara adat memberikan keputusan (dalam bentuk garis dan gambar yang dipahat pada batu) dalam hal membagi pokok pembicaraan, siapa yang harus bicara, serta cara beribadat.
Sementara inti dari upacara yang diselenggarakan di depan batu besar itu adalah wata’ esa ene yakni pernyataan tekad persatuan. Semua perwakilan kelompok etnis yang ada di Tanah Toar Lumimut mengantarkan bagian peta tanah Minahasa tempat tinggalnya dan meletakkan di bagian tengah panggung perhelatan. Diiringi musik instrumentalia kolintang, penegasan tekad itu disampaikan satu persatu perwakilan menggunakan pelbagai bahasa di Minahasa. Setelah tekad disampaikan mereka menghentakkan kaki ke tanah tiga kali. Pada penghujung acara para pelaku upacara bergandengan tangan membentuk lingkaran sembari menyanyikan Reranian: Royorz endo.

Batu Lesung Desa Kali Minahasa Tenggara

Batu Lesung

 

Lesung batu kebanyakan ditemukan di Minahasa bagian Tenggara. Beberapa diantaranya tersebar di kecamatan Tombatu, wilayah anak suku Tonsawang. Fungsi utamanya adalah sebagai wadah penumbuk padi atau penghancur biji-bijian. Hal ini terkait dengan wilayah tersebut yang dikenal sebagai salah satu sentra lumbung padi sejak ratusan tahun lalu. Ada Informasi lain yang menyebutkan bahwa lesung batu juga digunakan sebagai wadah untuk menghancurkan batu yang memiliki kandungan emas, sebelum diolah menjadi emas. Disamping fungsi utamanya tadi, keberadaan lesung batu oleh sebagian pemerhati budaya digunakan sebagai portal untuk berkomunikasi dengan leluhur mereka.

Saat ini lokasi tempat lesung batu dijadikan salah satu objek wisata sejarah dan budaya. Salah satunya bisa ditemukan di desa Kali, kecamatan Touluaan. Lesung batu ini dikenal dengan nama Lesung Nawo Oki karena erat dengan legenda Raja/Nawo Oki. Situs lesung batu yang berada di desa kali ini telah dipugar beberapa tahun lalu oleh pemkab Minahasa Selatan. Tetapi sejak pemekaran wilayah, situs lesung batu desa Kali kini menjadi milik pemkab Minahasa Tenggara. Sayangnya keberadaan situs lesung batu saat ini tidak dikelola dengan baik. Akses jalan menuju situs sudah rusak dan ditumbuhi belukar. Ditambah lagi dengan penolakan beberapa pemuda kampung desa Kali yang tidak tahu menghargai warisan budaya leluhur. Mereka menolak adanya kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan di lesung batu tersebut. Padahal eksotisme kegiatan-kegiatan kebudayaan tersebut bisa menjadi daya tarik pariwisata yang bisa membantu perekonomian desa Kali.

Waruga (Minahasa, Sulawesi Utara)

Pengantar
Di Sulawesi Utara, tepatnya di Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa, ada sebuah pekuburan yang dinamakan Taman Waruga. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama waruga. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “waruga” berasal dari kata “maruga” (bahasa Tombulu, Tondano, Tonsea) yang artinya “direbus”. Versi kedua mengatakan bahwa “waruga” berasal dari kata “meruga” (bahasa Minahasa Kuna) yang berarti “lembek” atau “cair”. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa “waruga” berasal dari dua kata, yaitu “waru” yang berarti “rumah” dan “ruga” yang berarti “badan”. Jadi, waruga dapat diartikan sebagai “rumah tempat badan yang akan kembali ke surga”.

Konon, makam yang terbuat dari batu yang dipahat dan dibentuk seperti rumah khas orang Minahasa ini adalah salah satu warisan tradisi zaman megalitikum yang terus dipertahankan hingga kira-kira pertengahan abad ke-19. Hal ini dapat dibuktikan dari pahatan angka tahun pada beberapa waruga seperti: 1769, 1839, 1850 dan lain sebagainya. Waruga dahulu digunakan sebagai sarana pemakaman keluarga yang ditaruh di pekarangan atau di kolong rumah. Namun, tidak semua orang Minahasa Utara memiliki waruga. Hanya orang-orang yang mempunyai status sosial yang cukup tinggi saja yang memilikinya. Itu pun jumlahnya tidak terlalu banyak. Menurut catatan, di seluruh daerah Minahasa bagian utara, termasuk Kodya Manado, hanya terdapat sekitar 2.000 buah waruga yang tersebar di beberapa tempat seperti: Sawangan 142 buah, Airmadidi Bawah 155 buah, Kema 14 buah, Kaima 9 buah, Tanggari 14 buah, Woloan 19 buah, Tondano 40 buah dan lain sebagainya.

Pada awal abad ke-20, tradisi mengubur mayat dalam waruga ini berhenti karena muncul wabah penyakit (kolera dan tifus) yang diduga bersumber dari mayat yang membusuk dalam waruga. Di daerah Sawangan, atas instruksi Hukum Tua (kepala desa), waruga-waruga yang tersebar diseluruh desa dikumpulkan dan di taruh di pinggir desa. Hal ini dilakukan agar warga desa tidak terjangkit wabah penyakit yang disebabkan oleh mayat yang membusuk tadi.

Waruga-waruga yang ada di daerah Minahasa ini mulai banyak menarik perhatian orang luar, terutama para peneliti, sejak C.T. Bertling menulis artikel De Minahasche Waruga en Hockernestattung yang dimuat dalam majalah Nederlansche Indis Oud en Niew (NION), No. XVI, tahun 1931. Setelah itu, C.I.J. Sluijk juga menulis artikel tentang waruga berjudul Tekeningen op Grafsten uit de Minahasa.

Pada tahun 1976, Drs. Hadi Moeljono yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan, mengadakan penelitian tentang waruga di Kabupaten Minahasa. Dari hasi penelitiannya itu, pada tahun 1977 Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Sulawesi Selatan melakukan pemugaran terhadap kompleks waruga di Sawangan dan Airmadidi. Hasilnya, pada tahun 1978 kompleks makam itu menjadi suatu Taman Waruga. Oleh pemerintah taman waruga ini kemudian dijadikan sebagai benda cagar budaya dan sekaligus juga sebagai obyek wisata budaya yang unik dan menarik. Kompleks makam waruga Sawangan peresmiannya dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Dr. Daoed Joeseof pada tanggal 23 Oktober 1978.

Kompleks Taman Waruga Sawangan
Taman Waruga dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: tempat pemakaman, museum, dan bangunan tambahan. Berikut ini adalah uraian tentang bagian-bagian tersebut.

Tempat pemakaman yang berisi ratusan buah waruga berada di bagian belakang taman. Waruga-waruga yang ada di tempat ini bahannya terbuat dari batu dengan lebar rata-rata 1 meter dan tinggi 1-2 meter, terdiri atas dua bagian yang berfungsi sebagai wadah dan tutup. Bagian tutup waruga bentuknya menyerupai atap rumah yang menjulang tinggi. Di bagian tutup ini banyak dipahatkan berbagai macam hiasan berupa: manusia dalam berbagai posisi, binatang, benda alam, tumbuh-tumbuhan, matahari, tumpal, untaian permata, rumbai-rumbai, ragam hias geometris dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa hiasan-hiasan tersebut merupakan gambaran situasi surgawi atau gambaran situasi saat orang yang ada di dalamnya mati. Misalnya, ada yang meninggal waktu melahirkan, digambarkan dalam posisi mengangkang. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa hiasan-hiasan itu merupakan gambaran profesi saat orang itu masih hidup. Misalnya, apabila di waruga tersebut ada gambar binatang, maka orang yang dikubur di dalamnya, dahulunya adalah seorang pemburu. Atau hiasan orang yang sedang bermusyawarah, maka dahulu orang yang dikuburkan di waruga itu adalah seorang Dotu Tangkudu (hakim).

Pada bagian depan kompleks kubur Waruga terdapat sebuah museum yang bentuknya berupa rumah panggung khas Minahasa. Di dalam museum itu terdapat beberapa lemari kaca yang menyimpan berbagai macam cincin, gelang, kalung, keramik Cina dari Dinasti Ming dan Ching, tulang belulang manusia dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut adalah isi dari waruga yang telah dibongkar dan dipindahkan ke dalam museum. Sebagai catatan, mayat yang akan ditaruh di dalam waruga biasanya disertai dengan berang-barang perhiasan miliknya.

Selain itu, di beberapa dinding bagian dalam museum ini juga terpampang peta kompleks waruga, foto-foto pemugaran kompleks, dan kliping foto orang-orang terkenal yang pernah datang ke kompleks waruga ini, yaitu: Ratu Beatrix dari Belanda yang pernah datang tahun 1995, Ratu Juliana pada tahun 1971, dan Pangeran Bernard.

Di sebelah museum, ada sebuah bangunan pendukung yang berbentuk rumah “modern”. Bangunan ini pada bagian depannya tidak berdinding dan di dalamnya terdapat sebuah kereta yang tampak seperti kereta pengangkut jenazah.

Sumber

Kue Apang Manado

Kue Apang Manado
Bahan-bahan/bumbu-bumbu :
150 gram gula merah, disisir halus
150 ml air
2 lembar daun pandan
150 gram tepung beras
75 gram tepung terigu protein sedang
1 1/2 sendok teh bumbu spekuk
1/2 sendok teh ragi instan
1 sendok teh baking powder
1/4 sendok teh garam
175 ml santan dari 1/2 butir kelapa
margarin untuk olesan
25 gram kenari, dipotong panjang untuk taburan


Cara Pengolahan :
  1. Rebus gula merah, air, dan daun pandan sambil diaduk sampai mendidih. Saring. Biarkan hangat. Ukur 225 ml air gula.
  2. Tuang sedikit – sedikit ke dalam tepung beras. Uleni rata.
  3. Masukkan tepung terigu, bumbu spekuk, ragi instan, baking powder, garam, dan santan. Aduk rata. Diamkan 30 menit.
  4. Panaskan cetakan kue lumpur. Oleskan margarin. Tuang adonan. Biarkan setengah matang. Tabur kenari.
  5. Tumpuk dengan kue yang sudah matang ke atas kue yang setengah matang. Biarkan matang. Angkat.
Untuk 10 buah

RESEP MAKANAN KUE CUCUR MANADO

Kue Cucur Manado

Bahan:
475 ml air
250 gr gula aren, iris halus
50 gr gula pasir
 Minyak goreng secukupnya

Bahan yang dicampur dan diaduk jadi satu:
300 gr tepung beras
30 gr terigu
Garam dan vanila secukupnya

Cara Membuat Resep Makanan Kue Cucur:
1.    Masak air dan gula aren hingga gula larut dan mendidih, angkat saring. Biarkan dingin
2.    Tuang rebusan gula kedalam campuran tepung. Tambahkan gula pasir, aduk-aduk selama 15 menit. Setelah itu aduk dengan sambil dipukul-pukul selama 30 menit. Diamkan adonan selama semalam
3.    Panaskan minyak sebanyak kurang lebih 50 ml dalam wajan kecil. Tuang 1 sendok sayur adonan. Goreng dengan api kecil sambil disiram-siram dengan minyak dan tusuk tengahnya dengan tusukan satai, agar kering dan matang. Balikkan dan goreng sebentar lagi. Angkat, tiriskan
4.    Hidangkan

Sejarah Perkembangan Komputer

Perkembangan Teknologi Komputer diawali dengan ditemukannya beberapa alat yang membantu Manusia dalam mngerjakan aktifitas hariannya diantaranya :

Sempoa, telah hadir sekitar 5.000-an tahun yang lalu dan masih digunakan sampai sekarang, sempoa dapat dianggap sebagai komputer pertama. Perangkat ini memungkinkan pengguna untuk membuat perhitungan dengan menggunakan sistem geser manik-manik dan menyusunnya. Pada masa itu setiap pedagang menggunakan sempoa sebagai media perhitungan.

Pada tahun 1642, Blaise Pascal (1623-1662), anak 18 tahun dari seorang penagih pajak Prancis, menemukan apa yang ia sebut dengan kalkulator, sebuah mesin numerik untuk membantu ayahnya dalam menyelesaikan tugasnya. Hasil penemuannya disebut juga dengan istilah Pascaline berbentuk kotak Kuningan persegi panjang.



Pada 1694, seorang matematikawan dan filsuf Jerman, Gottfried Wilhem von Leibniz (1646-1716), memperbaiki Pascaline mengembangkannya. Dengan mempelajari catatan asli dan gambar Pascal, Leibniz mampu memperbaiki mesinnya dengan mengubah sitem rida gigi yang ebih cepat.

Setelah perkembangan yang dilakukan oleh Gottfried Wilhelm von Leibniz, Seorang Prancis menemukan sebuah mesin yang dapat melakukan empat fungsi aritmatika dasar. Kalkulator mekanik Colmar's, arithometer, yang disajikan melalui pendekatan yang lebih praktis untuk komputasi karena bisa menambah, mengurangi, mengalikan dan membagi. Dengan fleksibilitasnya, arithometer ini banyak digunakan hingga Perang Dunia Pertama.


Pada tahun 1822 Charles Babbage menemukan sebuah mesin untuk melakukan persamaan diferensial, yang disebut Difference Engine. Mesin ini memiliki program yang tersimpan dan bisa melakukan perhitungan dan mencetak hasilnya secara otomatis. Setelah bekerja di Engine Perbedaan selama 10 tahun, Babbage tiba-tiba terinspirasi untuk mulai bekerja pada komputer umum tujuan pertama, yang disebut Analytical Engine. Asisten Babbage, Augusta Ada King, Countess of Lovelace (1815-1842) dan putri penyair Inggris Lord Byron, berperan dalam desain mesin ini. Salah satu dari sedikit orang yang mengerti desain Engine, ia membantu merevisi rencana, pendanaan dari pemerintah Inggris, dan mengkomunikasikan spesifikasi Analytical Engine kepada publik.



Setelah adanya penemuan Charles Babbge, Lady Lovelace adalah seorang programmer perempuan pertama dalam mesin penemuan Charles Babbge, Pada 1980-an, Departemen Pertahanan AS memberi nama bahasa pemrograman yang ditemukan oleh Lady Lovelace dengan nama ADA untuk menghormatinya.




Pada 1889, seorang penemu Amerika, Herman Hollerith (1860-1929), menerapkan konsep Jacquard untuk komputasi. Tugasnya adalah menemukan cara yang lebih cepat untuk menghitung sensus AS.






Pada tahun-tahun berikutnya, beberapa insinyur membuat kemajuan penting lainnya. Vannevar Bush (1890-1974) mengembangkan sebuah kalkulator untuk menyelesaikan persamaan diferensial pada tahun 1931. Mesin ini bisa menyelesaikan persamaan diferensial yang kompleks Vannevar Bush  juga seorang penemu Internet. Mesin tersebut praktis karena ratusan gigi dan poros yang diperlukan untuk mewakili nomor dan berbagai hubungan antara satu sama lain.



Artikel diatas adalah sebuah rangkuman yang dapatkan dari beberapa sumber, saya akui bahwa Artikel Sejarah Perkembangan Komputer tersebut masih banyak yang kurang.