Walaupun saat ini tidak berdomisili di Minahasa Tenggara (MITRA), tapi
kecintaan pada tanah saya dibesarkan tidak akan pudar selama-lamanya.
Oleh karena itu melalui media masa saya terus berusaha untuk mengikuti
perkembangan MITRA. Saya sangat mendukung usaha PEMKAB MITRA untuk
membangun daerah ke arah yang lebih baik dengan istilah PEMULIHAN
(Patuh, Efisien, Maju, Unggul, Lancar, Indah, Higienis, Aman, dan
Nyaman) yang dicanangkan Bupati Telly Tjanggulung. Namun, saya
menyesalkan fenomena yang terjadi saat ini khususnya niat dari PEMKAB
MITRA untuk mengganti simbol burung Manguni dengan burung Merpati di
logo MITRA. Sebenarnya tidak ada yang perlu dipulihkan dari simbol
Burung Manguni itu, yang perlu dipulihkan adalah pemahaman yang salah
dari simbol tersebut. Inilah maksud dari tulisan ini.
BURUNG MERPATI DALAM ALKITABDalam Kitab Suci orang Kristen (Alkitab), kata merpati mucul 44 kali.
1.
Kejadian : Burung merpati berperan sebagai pemberi pesan kepada Nuh
tentang keadaan alam, lebih khusus keadaan air sesudah peristiwa air bah
dan persembahan Abraham kepada Allah.
2. Imamat : Burung merpati sebagai persembahan
3. Bilangan : Burung merpati sebagai persembahan
4. II Raja-raja : Kotoran burung merpati digunakan dalan cerita tentang kelaparan di Samaria
5. Mazmur : Burung merpati sebagai makhluk yang bebas, makhluk yang lemah
6. Kidung Agung : Burung merpati sebagai simbol Cinta
7. Yesaya & Yeremia: Burung merpati sebagai simbol Kelemahan
8. Hosea : Burung merpati sebagai simbol Kebodohan (dari ungkapan “merpati tolol dan tidak berakal”, Hosea 7:11) dan kelemahan
9. Nahum : Burung merpati sebagai simbol Kelemahan
10. Injil-Injil: Burung merpati sebagai simbol Simbol Roh Kudus, ketulusan; sebagai bahan dagangan dan persembahan
Dari
keterangan Alkitab sangat jelas bahwa ada begitu banyak hal positif
yang dihubungkan dengan burung merpati (simbol Roh Kudus, ketulusan,
cinta; persembahan, pemberi pesan), tetapi tidak sedikit juga hal-hal
negatif (simbol kelemahan, kebodohan).
BURUNG MANGUNI DALAM BUDAYA MINAHASAUraian
tentang logo MITRA sebenarnya sangat jelas di website PEMKAB MITRA
(www.mitrakab.go.id). Burung Manguni diuraikan sebagai simbol
keminahasaan. Tampilan Burung Manguni yang sedang terbang dengan memakai
pita/gordon dan mahkota berwarna kuning keemasan menggambarkan
masyarakat kabupaten Minahasa Tenggara yang religius, cerdas dan santun.
Kepala yang terdiri dari wajah, alis, hidung, dan mata mengekspresikan
kewibawaan dan ketulusan; hidung dengan alis terbuka yang menyerupai
buku mengartikan sifat keterbukaan; mata berwarna putih mencerminkan
kesucian dan ketulusan hati. Mahkota diatas kepala Burung Manguni yang
warna kuning emas menggambarkan kehormatan dan kejayaan, dengan 3 mata
rantai berwarna perak yang diikat oleh Tali mengartikan angka 23 sebagai
tanggal peresmian Kabupaten Minahasa Tenggara. Pita/gordon yang
melingkar pada leher burung berjumlah 5, mengartikan bulan Mei sebagai
peresmian Kabupaten Minahasa Tenggara. Sayap kiri dan kanan serta ekor
berjumlah 7 mengartikan tahun 2007 diresmikannya Kabupaten Minahasa
Tenggara. Dengan kata lain Burung Manguni dalam logo MITRA adalah
penyataan identitas/jati diri orang MITRA sebagai orang Minahasa yang
religius, cerdas, santun, berwibawa, tulus, terbuka, memperjuangkan
kesucian, kehormatan dan kejayaan.
Sampai di sini saya kira tidak
ada alasan untuk mengganti posisi Burung Manguni dalam Logo MITRA. Tapi
kemudian, kita diperhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan antara lain:
“Bagaimana mungkin penduduk MITRA sebagai masyarakat religius di logonya
terdapat Burung Manguni atau Burung Hantu?”
Tokoh senior GMIM Pdt.
Prof.Dr. W.A. Roeroe dalam bukunya I Yayat U Santi (LETAK & UKIT
Press:2003) menjelaskan Burung Manguni dengan sangat baik.
Berdasarkan
keterangan biologis yang disajikan oleh Dr. Willy Smith, seorang pakar
Lingkungan Hidup, Guru Besar tamu di banyak universitas di berbagai
pelosok manca negara dan seorang Konsultan Departemen Kehutanan RI, Pdt.
Roeroe berusaha melengkapi kajiannya terhadap Burung Manguni dari sudut
pandang warisan kebudayaan Minahasa dan dari segi iman atau teologi
Kristen.
Beberapa keterangan biologis tentang Burung ManguniTentang Namanya.Dalam
ilmu pengetahuan ia dikenal dengan nama Otus Manadoensis (Strigidae).
Orang Minahasa menyebutnya dengan beberapa nama, antara lain Burung
Manguni, Totosik, Mahot.
Tentang Jenis dan UmurnyaSebenarnya
burung Manguni yang kita kenal di Minahasa ini hanyalah salah satu
jenis dari keluarga besarnya, yang juga ada di belahan dunia lain
termasuk di Eropa. Menurut ilmu pengetahuan, jenis burung ini sudah
hadir dan hidup kira-kira lebih daripada lima puluh juta tahun di muka
bumi. Oleh sebab itu dapat dikatakan dia memiliki hubungan yang sangat
erat dengan alam, termasuk gejala-gejalanya.
Tentang Badan dan bulu-bulu serta cara terbangnyaWarna
Burung Manguni cokelat gelap dan bertaburan noda serta bintik-bintik
putih besar-kecil di seluruh tubuhnya. Ada yang badannya agak besar
sehingga memiliki panjang sampai kira-kira 40 cm, yang kecil kira-kira
15-20 cm saja. Secara umum kepalanya nampak agak besar dan kalau duduk
sampai berjam-jam lamanya tanpa kelihatan bergerak sedikitpun dan selalu
kelihatan tegak. Sewaktu-waktu ia mengarahkan kepalanya untuk melihat
dan memasang telinga ke suatu arah dan untuk itu kepalanya dapat
berputar sampai sekitar 270 derajat. Sehingga kalau orang kebetulan
melihat gejala itu dapat tercengang dan bingung bahkan sampai takut
karena penampakan tersebut. Apalagi pada waktu burung ini mendadak
terbang, maka sayapnya seketika terbentang lebar sekali dan menampakkan
warna putih terang agak besar di bawah sayapnya, ditambah lagi bunyi
(suara) yang agak aneh yang dikeluarkannya. Benar-benar akan membuat
orang sangat takut.
Sangat mengagumkan ketika dia terbang, karena
tidak kedengaran. Itu disebabkan oleh bulu yang tumbuh sangat teratur di
tubuhnya, sehingga penglapisannya satu dengan yang lain tertutup rapih
dan tidak meluaskan angin menyisp di antaranya untuk membangkitkan suara
mendesir karena arus angin yang menyelinap sangat lemah. Hal ini juga
ditunjang oleh rambut-rambut halus di atas dan di bawah bulu-bulunya itu
yang sanggup meredam sisa-sisa hembusan angin. Dengan begitu, Burung
Manguni terampil dan sanggup muncul cepat, mendadak dan tidak kedengaran
di mana saja dan entah darimana datangnya, yang sangat mencengangkan
orang.
Tentang Mata dan Penglihatannya serta telinga dan pendengarannyaBurung
Manguni memiliki otot-otot mata yang sangat berbeda dengan manusia.
Otot-otot matanya dapat dengan sangat cepat memperbesar atau memperkecil
iris atau jendela mata pengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata untuk
menggambarkan penglihatan. Oleh karena itu tidak membutuhkan waktu lama
untuk menyesuaikan penglihatannya dalam keadaan remang-remang, terang
dan gelap. Mata Burung Manguni 100 kali lebih baik dari mata kucing. Itu
berarti matanya 500 kali lebih tajam dari pada mata manusia.
Sepasang
mata terbelalak besar agak kekuning-kuningan yang menghadap ke depan
seakan-akan dia berhadapan dengan manusia untuk menantang bahkan
menakutkannya.
Pendengarannya juga 500 kali lebih terang dari
manusia. Itu karena “daun telinganya” yang agak besar dan lobang
telinganya yang mengantar gelombang atau getaran suara ke dalam rongga
pendengaran tercipta amat canggih. Di bagian luar kedua telinganya
terlindung dengan bulu-bulu halus yang membuatnya peka sekali untuk
menangkap gelombang atau getaran bunyi frekuensi yang tinggi sekalipun
dan yang tidak tertangkap oleh telinga manusia. Letak kedua lubang
telinganya yang berjauhan dan tidak simetris membuat bunyi tiba lebih
cepat ke telinga yang satu daripada yang lain dan segera dia dapat
mengira atau lebih tepat mengukur jauhnya jarak ke sumber suara sekecil
apapun dengan sangat cepat, cermat dan akurat.
Keterangan
mengenai mata dan telinga Burung Manguni di atas diperoleh lewat
percobaan ilmiah dalam suatu ruang gelap total. Di dalamnya dipasang
sejenis pengeras suara mini yang diletakkan 20 meter dari si Burung
Manguni. Lewat pengeras suara itu dibunyikan suatu suara kuku tikus
kecil yang bergerak di tanah. Pertama, saat suara itu dibunyikan dengan
durasi kurang dari satu detik, terekam kepala Burung Manguni tersebut
diarahkan ke sumber bunyi dengan tepat. Dengan bunyi yang sama untuk
kedua kalinya dengan durasi secepat kilat tetap dalam keadaan yang gelap
total, Burung Manguni itu langsung terbang menyambar pengeras suara di
kejauhan 20 meter dari posisinya sebelumnya secara sempurna. Luar biasa!
Tentang Makanan UtamanyaLebih
dari 90 % makanan utama jenis-jenis Burung Manguni ini ialah tikus
kecil, yang biasanya di Nusantara kita ini menjadi hama tanaman-tanaman
palawija dan padi di ladang atau sawah. Di Jawa dan Sumatera burung
seperti ini dipelihara untuk membasmi dan memberantas secara efisien
hama tikus di sawah dan perkebunan kelapa sawit. Caranya dengan
menyediakan tempat burung-burung ini bersarang dan berkembang biak.
Ternyata cara ini lebih ampuh dari pada menggunakan alat perangkap atau
racun tikus yang dapat membahayakan manusia dan binatang ternak lain.
Tentang Tempat PerteduhannyaDi
tanah Minahasa saat ini Burung Manguni semakin langka karena
kecorobohan dan kerakusan manusia yang mengeksploitasi hutan. Dia
memerlukan hutan dan pohon-pohon tua yang berlubang untuk sarang dan
tempat perteduhannya supaya dapat berkembang biak dengan baik.
“Burung Hantu?”Pada
masa lalu ada sejenis Burung Manguni yang hidup di Yunani dan dianggap
lambang Dewa Pallas Athena, dalam bahasa Latin ia dikenal dengan Athena
Noctua. Orang Yunani memahami burung ini sebagai lambang kebijaksanaan
dan yang berhikmat.
Di Eropa ada lagi jenis burung Manguni yang
nama ilmiahnya Tyto Alba. Di sana, kebiasaan burung ini tinggal di dekat
kuburan yang biasanya berada di samping gereja. Kuburan demikian
disebut kerkhof (taman gereja) dalam bahasa Belanda. Di sekitar
kuburan-kuburan seperti itu banyak bertumbuh pohon-pohon tua yang
berlubang batangnya yang sangat cocok bagi jenis burung ini berlindung,
tinggal dan berkembang biak. Di sepanjang siang hari di situlah ia
bernaung, kadang-kadang juga di bawah atap gedung-gedung gereja. Pada
malam hari burung-burung ini suka duduk diam seperti patung di atas
kuburan itu untuk mengintai lalu menangkap mangsanya tikus. Kalau ada
pengunjung lewat di sekitar gereja di malam hari, burung-burung yang
mula-mula diam merasa terganggu dan tiba-tiba terbang serempak dan
mengejutkan orang yang lewat itu. Di tambah lagi kalau burung ini
melintas terlalu dekat pada orang itu dan mengeluarkan suara nyaringnya
dan dengan pandangan matanya yang terbelalak, maka ketakutan besar akan
dirasakan oleh orang itu. Waktu itu orang-orang di sana kemudian
langsung membayangkannya seperti hantu. Itulah sebabnya mereka
menyebutnya “burung hantu”. Waktu orang Eropa tiba di tanah Minahasa dan
melihat Burung Manguni sejenisnya, langsung menyebutnya “Burung Hantu”.
Yang sangat disayangkan beberapa pendahulu kita secara bodoh dan tanpa
berpikir panjang langsung juga menyebutnya demikian. Penamaan itu
terbawa-bawa bagi banyak orang di Minahasa sampai saat ini, termasuk
untuk masalah penggantian posisi Burung Manguni di logo Kabupaten MITRA.
Burung Manguni dalam Kebudayaan MinahasaDari
keterangan di atas Burung Manguni telah hidup lama ‘bergaul’ dengan
alam, oleh sebab itu lebih berhikmat, lebih berpengalaman dalam
interaksinya dengan alam ciptaan Tuhan. Ia lebih peka bergaul dengan
alam sekitar dan oleh sebab itu lebih terampil mengenal dan memahami
alam, dia lebih peka terhadap terganggunya perubahan iklim,
gejala-gejala alam lebih khusus bencana-bencana, seperti yang banyak
terjadi saat ini.
Saya bersyukur walaupun sebagian besar leluhur
kita belum mengecap pendidikan seperti kita saat ini dan tidak
mengetahui keterangan ilmiah Burung Manguni, mereka tidak memandangnya
sebagai Burung Hantu. Mereka hidup bergaul erat dengan alam bersama
segala yang hidup di dalamnya termasuk dengan Burung Manguni. Mereka
belajar bergaul dan berupaya memahami bentuk-bentuk ungkapannya demi
kalangsungan dan ketenteraman, ya, demi kerukunan hidup semua dan
bersama. Oleh sebab bagi para leluhur kita ini, Burung Manguni adalah
rekan hidup sehari-hari di alam ini, ia teman yang akrab, bahkan ia
dianggap sebagai pengantara antara manusia dengan Dia Yang Tinggi dan
Mahakaya serta Yang Berkemurahan: Opo’ wana’ an Atas, Opo’ Wailan
Wangko, Opo’ Renga-rengan. Dengan demikian, bagi para leluhur kita
Burung Manguni bukan “burung hantu”!, sekali lagi bukan “burung hantu”!.
Ia disayangi dan diberikan tempat khusus dalam hati leluhur kita,
sekali lagi sebagai teman. Ialah pemberi isyarat atau kabar kepada
mereka lewat bunyi atau nyanyiannya. Di malam yang tenang nan indah,
apalagi bila bulan bersinar, dan lebih-lebih lagi pada waktu bulan
purnama, saat kedengaran Burung Manguni bernyanyi merdu dan syahdu:
“hoot ……, hoooooot ……, hoooooot” berulang-ulang nun tinggi di atas pohon
kayu, maka bagi para leluhur kita dengan segala sukacita menyambutnya
dengan berseru: “Hai semua orang, termasuk anak-anakku. Besok pagi
bangun dan kerjakanlah segala yang telah direncanakan dengan baik.
Keberhasilan sudah menunggu kita, kerjalah dengan gembira, rajin dan
penuh sukacita. Kepada kita telah diberi isyarat oleh teman kita”. Bunyi
dan nyanyi indah itu merupakan pertanda alam sekitar aman, indah,
lestari dan mendatangkan selamat. Oleh sebab itu berjuang dengan tabah,
tekun, rajin, pasti berhasil!
Tetapi apabila pada suatu waktu
ataupun suatu malam, apalagi menjelang larut, lalu didekat rumah atau
pondok tempat bermukim tiba-tiba kedengaran bunyinya: “hot., hot., hot!”
dengan tergesa-gesa dan kedengaran panik, maka kata para leluhur kita:
“Hai semua orang, termasuk anak-anakku, berjaga-jagalah, periksalah
semua pintu dan jendela, anjing penjaga rumah dekatkan. Jangan-jangan
akan terjadi hal yang kurang baik, entah orang berniat jahat, atau
binatang buas sedang mendekati kita atau kemungkinan gangguan dalam
keseimbangan ketertiban alam seperti banjir, kemarau berkepanjangan dan
bencana alam lainnya.
Begitulah para leluhur kita sanggup memahami dan mengerti bahasa sesama atau rekan hidupnya dalam alam ini.
Secara
ilmiah perilaku Burung Manguni ini dapat dijelaskan, dimengerti dan
dipahami. Pergaulannya dengan alam sekitar yang sangat lama dilengkapi
dengan penglihatan dan pendengaran yang diciptakan Tuhan super canggih,
maka gejala-gejala alami yang akan terjadi merangsang dia untuk
berprilaku entah tenang dan indah atau sebaliknya panik dan terganggu
sesuai dengan yang diamati dan dirasakannya.
Dalam hubungannya dengan iman KristenKejadian
Pasal 1 dan 2 menjelaskan bahwa bumi dan segala isinya adalah ciptaan
Tuhan. Khusus Kejadian 1:20-23 di ceritakan bagaimana Tuhan menciptakan
binatang-binatang laut dan segala jenis burung. Saya yakin kita semua
memiliki persepsi yang sama bahwa Burung Manguni (juga burung merpati)
termasuk dalam jenis burung yang diciptakan Allah sebagaimana yang
diceritakan di bagian Alkitab tersebut. Dengan kata lain Alkitab tidak
pernah mengatakan bahwa Burung Manguni itu adalah “burung hantu”. Hanya
orang Eropa yang memiliki persepsi salah tentang burung itu yang
mengatakan demikian. Saya kira kita semua setuju untuk tidak
membudayakan kesalahan yang terjadi selama ini.
PenutupMenurut
informasi dari Manado Post, Selasa 31 Maret 2009 bahwa PEMKAB telah
mengusulkan ke dewan untuk dimasukkan dalam ranperda. Saya mengajak
masyarakat MITRA bersatu menolak rancangan itu. Hanya bukan orang MITRA
yang berani menanggalkan Burung Manguni sebagai identitasnya. Saya
sangat menyesalkan statement Bupati MITRA di harian Manado Post, Kamis 2
April bahwa Patokaan Esa Pasti Diganti.
Sekali lagi saya sangat
mendukung istilah PEMULIHAN (Patuh, Efisien, Maju, Unggul, Lancar,
Indah, Higienis, Aman, dan Nyaman) yang dicanangkan Bupati Telly
Tjanggulung. Namun, saya mohon dengan tulus seperti salah satu arti
merpati, yang dipulihkan di MITRA adalah kebodohan, kemiskinan,
ketertinggalan, sumber daya manusia, bukan IDENTITAS ORANG MINAHASA yang
menjadi kebanggaan kami.
Saya kenal Bupati MITRA sebagai orang
yang sangat religius yang berusaha menerapkan theokrasi (pemerintahan
Allah) di dalam demokrasi (pemeritahan rakyat). Saya sangat mendukung
hal tersebut. Oleh karena itu, Roh Kudus seharusnya bukan hanya terbatas
pada simbol, tetapi pada tindakan konkret yang penuh ketulusan, cinta
dan sebagai pemberi pesan yang baik kepada semua golongan agama di MITRA
sebagai persembahan diri yang benar di hadapan Allah.
Melalui
keterangan Alkitab, tidak semua hal yang berhubungan dengan burung
merpati positif. Ungkapan “merpati tolol dan tidak berakal” dalam Hosea
7:11, merupakan keterangan negatif yang tidak harus diabaikan. Saya
berharap pergantian burung manguni dengan burung merpati dipertimbangkan
lagi, karena jangan sampai itu merupakan simbol kebodohan dan kelemahan
orang MITRA (“merpati tolol dan tidak berakal”) yang mudah diperlakukan
semena-mena oleh orang yang tidak merasa diri orang MITRA. Saya kira
semua orang yang lahir, dibesarkan dan tinggal, bekerja di MITRA adalah
orang MITRA. Yang bukan orang MITRA adalah yang menyangkal jati diri
termasuk di dalamnya simbol Burung Manguni sebagai kebanggaan kami.
Saya
kira Bapak Wakil Bupati tahu akan hal ini. Sebagai orang MITRA saya mau
bertanya apa yang sudah Bapak lakukan dalam mempertahankan dan bahkan
melestarikan identitas KEMINAHASAAN kita?
Yang saya tahu Indonesia
menganut sistim pemerintahan demokrasi (secara harafiah berarti
pemerintahan rakyat), bukan otoriter, segala keputusan hanya dari
pemimpin. Oleh karena itu saya mendukung usulan dari tokoh-tokoh adat
MITRA untuk membahas polemik ini dengan duduk satu meja, membahasnya
bersama, bukan menetapkannya sepihak. Duduk satu meja untuk membahas
satu persoalan adalah warisan leluhur yang menurut saya sangat cocok
dengan amanat Pancasila (Burung Garuda) untuk bermusyawarah dalam
memutuskan satu hal, yang perlu terus di lestarikan.
Sumber