Rabu, 21 November 2012

Ternak Babi

 
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
“Pelatihan Budi Daya Ternak Babi ” di desa Enoneten, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) merupakan salah satu pilot program pengembangan agribisnis yang diselenggarakan oleh Program Nasional PemberdayaanMasyarakat Agribisnis Perdesaan (PNPM-AP). Pelatihan tersebut  telah dirancang secarapartisipatif oleh kelompok Tani sebagai upaya pengembangan usaha agribisnis budidaya ternak babi di Desa Enoneten, Kecamatan Amanuban Selatan – TTS.Agribisnis adalah serangkaian kegiatan usaha memelihara ternak atau menanam tanaman yang dilakukan petani baik dalam bentuk kelompok atau perorangan untuk mengahsilkan produksi ternak atau tanaman (ekor, buah, biomas, umbi dan lain-lain) yang dapat dipasarkan dan menguntungkan bagi petani ataukelompok usaha. 
Teknik budidaya ternak babi merupakan salah satu peluang bisnis bagi petani sesuai potensi dan sumberdaya yang tersedia, karena komoditi babi dapat dipelihara oleh sebagian besar rumah tangga petani untuk dijual sebagai sumber uang tunai. Di NTT populasi ternak yang paling banyak adalah ternak babi, sebanyak 1.457.543 ekor dan 19 % (275.125 ekor) berada di Kabupaten TTS (Statistik Peternakan 2006).

Bagi masyarakat NTT ternak babi sangat penting artinya dalam keterkaitannya dengan adat istiadat atau dapat dikatakan bahwa ternak babi sudah dipelihara sejak turun temurun. Masalahnya makanannya masih tergantung dari sisa-sisa dari dapur dan ubi-ubian, dikandangkan tetapi kadang-kadang dilepas dengan sistem perkandangan tradisionial, Usaha pemeliharaan ternak babi bagi 90 % petani NTT seolah-olah sudah menjadi keharusan. Hal ini disebabkan selain memanfaatkan sisa dapur untuk sumber pakan babi, juga untuk memenuhi tuntutan kebutuhan adat dalam budaya lokal. Begitu pentingnya ternak babi dalam budaya hampir seluruh masyarakat NTT, memberi nilai lebih ternak ini dari pada ternak sapi sekali pun. Bahkan untuk memenuhi tuntutan adat, masyarakat rela menukarkan sapi yang berumur 1,5 tahun dengan seekor babi.

Nilai jual ternak babi bagi masyarakat NTT umumnya relatif cukup tinggi. Ternak babi dengan umur kurang lebih 1,5 – 2 tahun, dapat dijual dengan harga 2 juta sampai 2,5 juta rupiah. Untuk anak babi dengan umur 2 – 3 bulan, dijual dengan harga berkisar antara Rp.250.000 sampai Rp.300.000 Dengan adanya kasus Hok Colera yang menyerang ternak babi pada beberapa daerah terutama Timor dan Sumba, menyebabkan permintaan akan babi relatif cukup tinggi, sedang ketersediannya semakin berkurang.

Program PNPM-AP tidak hanya meningkatkan pengetahuan petani dalam praktek usahatani budidaya ternak babi, tetapi juga memfasilitasi petani dalam penguatan usaha kelompok dan pemasaran. Diharapkan melalui program ini: a) petani dapat mempraktekkan budidaya ternak babi dengan baik dan benar mulai dari mengenal type-type babi, b) pembibitan/penggemukan babi; c) pemeliharaan, d) manajemen kandang dan kesehatan ternak babi, e) manajeen pakan (jumlah, kualitas dan jumlah pemberiannya). Diharapkan terjadi peningkatan pendapatan petani dari usaha budidaya ternak babi dapat melakukan penataan kelembagaan kelompok tani yang berorientasi pada pasar dan menguntung petani.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari Pelatihan ini adalah :
1. Peserta dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang Manajemen Kelompok Tani di Desa Enonetan
2. Peserta dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok tani tentang Perbibitan Babi
3. Peserta dapa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani tentang manajemen kandang kelompok dan kesehatan ternak
4. Peserta dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani tentang manajemen pakan
5. Peserta dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani tentang Pemasaran dan Analisis Usaha babi

II. MATERI DAN METODA PELATIHAN
2.1. Waktu dan Lokasi Pelatihan
Pelatihan “Teknik Budidaya Ternak Babi” dilakukan di Desa Enoneten,
Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan yang telah
berlangsung dari tanggal 4 Maret sampai dengan 7 Maret 2009.

2.2. Peserta Pelatihan dan pelatih
Pelatihan Budidaya Babi berjumlah 37 peserta ( Lampiran 1) yang berasal dari 3 kelompok tani atau utusan dari petani desa Enoneten sedangkan Fasilitator/pelatih serta pendamping teknis pelatihan kegiatan ini adalah tenaga ahli pelatihan di bidang peternakan dari BDSP pemenang yaitu dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Timur.

2. 3. Materi Pelatihan
Penggadaan materi pelatihan yang telah dipersiapkan oleh BDSP dan bahan yang dibutuhkan selama pelatihan sampai pada kegiatan menjadi tanggungjawab Tim Pengelola Kegiatan (TPK) bersama petani peserta pelatihan Budidaya Babi.

2.4. Metoda Pelatihan
Pelatihan menggunakan metoda ceramah (penyampaian materi/modul di kelas), diskusi secara partisipatif dan praktek. Praktek terdiri atas dua jenis yakni melaksanakan praktek yang disiapkan pada setiap modul (implementasi teori) dan mempersiapkan lokasi demoplot. BDSP tidak membatasi diri dalam memberikan pengetahuan sehingga bersedia berdiskusi dengan petani selama berada di desa. 

2.5. Kurikulum pelatihan
Materi untuk berlatih (modul) disesuaikan dengan tujuan pelatihan, yakni: (1) Manajemen Kelompok, (2) Type-type ternak babi, (3) Pembibitan babi, (4) Pemeliharaan ternak babi, (5) Kandang dan kesehatan ternak babi, dan (6) Analisa Ekonomi ternak babi, dan (7) Membuat Rencana Kerja Tindak lanjut (RKTL)

2.6. Jadwal dan Pelaksanan kegiatan
Adapun jadwal kegiatan (Lampiran 2) yang dilakukan selama pelatihan diuraikan sebagai berikut:

Rabu, 4 Maret Pebruari 2009.
· Acara pembukaan bertempat di gedung Gereja Desa Enoneten. Acara pembukaan diikuti seluruh peserta, Aparat Desa Enoneten, kader desa, dan UPK Kecamatan Amanuban Selatan. Pada acara pembukaan BDSP disambut secara adat oleh peserta pelatihan dan dilanjutkan Sambutan dari BDSP, sambuatan UPK dan Arahan Kepala Desa sekaligus membuka secara resmi Acara Pelatihan Budidaya Ternak babi.
· Acara perkenalan BDSP, panitia dan peserta pelatihan
· Materi Pelatihan: Manajemen kelompok
- Penjelasan dan diskusi tentang pengertian kelompok tani
- Penjelasan dan diskusi manfaat berkelompok
- Penjelasan dan diskusi Struktur organisasi kelompok tani
- Penjelasan dan diskusi Tugas Ketua kelompok tani
- Penjelasan dan diskusi mendalami potensi desa usahatani dan non usahatani
- Penjelasan, diskusi dan Praktek membuat Rencana Usaha Anggota (RUA)
- Penjelasan, diskusi dan praktek teknik pembuatan Rencana Usaha Kelompok (RUK)

· Materi Pelatihan: Budididaya Ternak Babi
- Penjelasan dan diskusi, type-type ternak babi
- Penjelasan dan diskusi, pembibitan ternak babi
Kamis, 5 Maret 2009
· Materi Pelatihan: Budididaya Ternak Babi
- Penjelasan dan diskusi, pembibitan Ternak Babi
- Penjelasan dan diskusi Pemeliharaan Ternak Babi
- Penjelasan dan Diskusi manajemen kandang ternak Babi (kandang yang baik, fungsi kandang, bentuk kandang dan ukuran kandang)

Jumat, 6 Maret 2009
· Materi Pelatihan: Budidaya ternak babi
- Penjelasan dan diskusi kesehatan ternak (kesehatan umum ternak, beberapa penyakit ternak dan teknik pencegahan dan pengobatan)
- Peserta bersama BDSP dan TPK survei lokasi untuk demoplot kandang babi
- Penjelasan dan diskusi manajemen pakan ternak babi

Sabtu, 7 Maret 2009
Materi Pelatihan : Analisa budidaya ternak babi
- Menjelaskan, diskusi dan praktek Analisis Ekonomi (perhitungan) usaha tani babi pembibibitan dan babi penggemukan
· Evaluasi peserta terhadap materi dan pelaksanaan pelatihan
1. Apa yang dimaksud Agribinis?
2. Apa yang disebut kelompok tani dan apa tugas Ketua Kelompok
3. Sebutkan 3 fungsi kandang yang diketahui?
4. Sebutkan ukuran kandang pada babi yang beranak, babi pejantan dan pada babi dengan berat badan (35 kg, 50, kg dan 75 kg)
5. Sumber-sumber makanan babi
· Penyusunan alokasi waktu dalam Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) kelompok
· Penutupan
- Acara penutupan kembali dilakukan di Gereja Enoneten oleh kepala desa
Enoneten dan diikuti ( BDSP, UPK, BPD Enoneten, Aparat Desa, dan TPK
bersama Panitia dan undangan lainnya.

III. HASIL PELATIHAN
3.1 Partisipasi Peserta dan Pemahaman Materi Pelatihan
Peserta sebanyak 37 orang cukup aktif dalam kegiatan diskusi dan praktek yang dilakukan dan seluruh peserta mengikuti jalannya pelatihan dari awal hingga berakhirnya kegiatan pelatihan selesai dengan Daftar hadir harian (Lampiran 1.)

3.2. Demoplot dan Studi Banding
Demoplot kandang permanen babi, rencana akan dibangun setelah bahan bangunan telah tersedia. Rancang bangun (Kontruksi kandang), ukuran kandang akan dirancang oleh BDSP sesuai kebutuhan dan rencananya akan dibangun pada bulan April 2009. Pengadaan babi akan segera dilakukan setelah kandang babi dibuat. bagai contoh untuk dikembangkan pada kelompoktani yang lain.

Studi banding direncanakan pada bulan April. Tujuannya adalah untuk melihat beberapa usaha peternakan babi yang sudah berhasil dan melihat secara dekat tentang teknik budidaya yang sudah berjalan dengan baik.
3.3. Permasalahan/Kendala yang dihadapi
Selama persiapan dan pelaksanaan kegiatan pelatihan, Tim BDSP mengalami beberapa kendala/masalah, antara lain :
· Masih ada peserta yang belum dapat membaca dan menulis, sehingga mempengaruhi proses belajar mengajar terutama kegiatan dalam kelas
· Bahan untuk kegiatan demoplot ternak babi (kandang ababi) belum tersedia karena kondisi jalan rusak berat akibat curah hujan yang masih tinggi.
· Kandang babi belum dibuat hingga selesai pelatihan karena masih menunggu Desain Gambar dari Fasilitator Teknik (FT) Kecamatan Amanuban Selatan

3.4. RKTL
Kesepakatan dalam kegiatan pelatihan budidaya ternak babi adalah dibuatnya rencana kerja tindak lanjut (RKTL) kelompok.

Diharapkan TPK dapat mempersiapkan bahan-bahan kandang yang tidak disiapkan pada tingkat lokal (semen, paku, dan pasir) lebih cepat sehingga dapat dibangun kandang ternak babi pada pertengahan bulan April 2009

3.5. Hasil Pelatihan
a. Peningkatan pengetahuan
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengetahuan petani tentang teknik budi daya ternak babi terutama hal-hal teknis masih sangat minim, namun hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengetahuan petani telah meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa keseriusan peserta mengikuti pelatihan cukup tinggi, dan materi yang disampaikan mudah dipahami. Meskipun demikian dampak peningkatan pengetahuan terhadap perbaikan praktek budidaya ternak babi masih perlu dipantau pada waktu mendatang.

b. Prospek ke depan
Prospek peningkatan produksi ternak babi sangat terbuka. Hal ini ditandai bahwa budidaya ternak babi secara ekstensif tradisioan sudah pernah dilakukan petani, walaupun teknik budidaya yang benar sudah mulai difahami setelah dilakukan pelatihan ini. Prospek pengembangan budidaya ternak babi ke-depan mempunyai peluang besar karena di desa ini potensi biji asam sebagai salah satu pakan babi di desa Enoneten sangat besar. Hal ini memberi petunjuk bahwa potensi agribisnis ternak babi dapat berkembang apabila teknologi budidaya diterapkan dengan baik danbenaroleh petani.

IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
a. Pemahaman tentang pentingnya berkelompok dan manfaat yang diperoleh apabila petani berusahatani berkelompok cukup baik sehingga ke depan apabila petani tergabung dalam kelompok tani akan menjadi unit agribisnis budidaya ternak babi dalam skala besar, Hal ini diukur bahwa peserta dapat merencanakan usaha agribisnis budidaya babi yang terencana yang tertuang dalam RUA dan RUK.
b. Pengetahuan dan ketrampilan petani dalam budidaya ternak babi khususnya pembibitan di desa Enoneten telah meningkat sehingga dapat mendorong petani untuk memperbaiki praktek berusahatani budidaya ternak babi.
c. Peserta pelatihan semakin sadar bahwa usahatani ternak babi sangat menguntungkan apabila ternak dipelihara dalam kandang dengan wawasan lingkungan yang bersih akan dapat mencegah penyakit pada ternak babi.
d. Pemberian pakan yang berkualitas dalam jumlah yang sesuai akan meningkatkan produksi anak dan produksi daging pada babi dengan tujuan pembesaran atau penggemukan
e. Peserta pelatihan dapat memahami dan membuat perhitungan (Analisa usaha) budidaya ternak babi yang dapat menguntungkan bagi peternak atau kelompok.
f. Peserta pelatihan dapat menyusun RKTL sebagai agenda kerja kelompok tani untuk pelaksanaan demoplot.

4.2. Saran
Peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan melalui pelatihan perlu diikuti dengan pendampingan secara rutin agar sasaran pelatihan untuk pengembangan agribisnis usaha ternak babi dapat tercapai dan disertai peminjaman modal usaha dari UPK PNPM_AP Kecamatan Amanuban Selatan atau Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

sumber :
http://ntt.litbang.deptan.go.id/pnpm/1.pdf



Related Articel:

0 komentar:

Poskan Komentar